Selamat datang di situs resmi Kelompok Informasi Masyarakat Desa Randupitu

Anak Desa Bisa Sukses: Podcast "BISA" Angkat Peran Orang Tua dalam Mencetak Generasi Emas

Podcast BISA (Bincang Santai Anak Desa) yang digagas oleh Seven Project kembali hadir dengan diskusi inspiratif. Bertempat di Cafe Kopirex Gank Randupitu, acara kali ini mengusung tema "Suket Teki Jadi Padi: Didikan Orang Tua Desa Cetak Anak Sukses". Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang untuk mengupas tuntas pentingnya pola asuh keluarga dalam membentuk masa depan anak-anak desa. 

Dipandu oleh Suudin Zuhri selaku moderator, podcast ini menghadirkan tiga narasumber hebat: Dina Aulia Fajrin (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang), Bunda Ningsih (Kepala PAUD Anggrek), serta Gus Ilul dari lingkungan Pondok Pesantren Cangaan Bangil.

Dalam pembukaannya, moderator menegaskan makna mendalam di balik tema yang diangkat. Ia menyampaikan bahwa label "anak desa" tidak selamanya harus dipandang sebelah mata. Dengan pendidikan, kerja keras, dan dukungan keluarga, anak desa mampu bertransformasi menjadi pribadi yang sukses dan bermanfaat.

 "Tidak semua suket teki menjadi benalu. Anak desa juga mampu menjadi padi yang berguna bagi banyak orang," tegas Suudin Zuhri. 

Bunda Ningsih menekankan bahwa keberhasilan seorang anak tidak ditentukan oleh masa kecilnya, melainkan oleh pola asuh yang diterapkan. Karakter anak dibentuk sejak usia dini melalui kebiasaan dan keteladanan di rumah.

Ia mengingatkan orang tua untuk tidak terpaku pada cara mendidik zaman dahulu, melainkan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

"Didiklah anak sesuai zamannya. Anak-anak hidup di era yang berbeda, sehingga pendekatan pengasuhan juga harus berubah," jelasnya.

Menurutnya, peran guru tidak hanya mendidik anak di sekolah, tetapi juga mengedukasi orang tua agar nilai-nilai yang diajarkan selaras antara di sekolah dan di rumah.


Dari sudut pandang psikologi, Dina Aulia Fajrin menjelaskan konsep observation learning. Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi lebih utama dari apa yang dilihat dan diamati setiap hari dari orang tuanya.

"Anak bukan hanya mendengar nasihat, tetapi juga meniru apa yang mereka lihat setiap hari," ujarnya.

Dina juga membagikan pengalaman pribadinya. Meski sempat bercita-cita menjadi atlet bulu tangkis, orang tuanya memberikan kebebasan memilih jalan hidup namun tetap menanamkan rasa tanggung jawab. Dukungan inilah yang membawanya sukses berprestasi sebagai atlet sekaligus menempuh pendidikan tinggi.

Sementara itu, Gus Ilul menyoroti pentingnya sinergi antara orang tua, guru, dan anak. Ketiganya harus memiliki visi yang sama agar pendidikan berjalan efektif, apalagi di tengah tantangan era digital dan pengaruh media sosial yang begitu besar.

"Kalau moral ingin kuat, pondasinya adalah akhlak. Orang tua harus membangun kedekatan emosional agar nasihatnya lebih didengar daripada pengaruh luar," katanya.

Hal ini diperkuat dengan penekanan pada pendidikan agama. Bunda Ningsih berpesan agar orang tua tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun fondasi ibadah dan akhlak sejak dini agar anak sukses namun tetap memiliki budi pekerti luhur.

Di penghujung acara, para narasumber menyampaikan pesan menyentuh. Bunda Ningsih mengingatkan bahwa keberhasilan mendidik anak adalah bekal berharga bagi orang tua di akhirat. Dina Aulia Fajrin pun menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam atas kasih sayang dan kepercayaan orang tuanya.

Gus Ilul mengajak generasi muda untuk tidak takut mencoba, berani bertanggung jawab, dan terus belajar dari kegagalan. 

Acara ditutup dengan harapan agar masyarakat desa semakin sadar bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh latar belakang atau ekonomi, melainkan oleh pendidikan, doa, dan keteladanan orang tua. Suasana semakin hangat dengan penampilan musik dari Kempes Band.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama