Selamat datang di situs resmi Kelompok Informasi Masyarakat Desa Randupitu

Menjaga Jejak Sejarah, Pemdes Randupitu Gelar Ziarah Leluhur Jelang Tegal Desa

Menjelang pelaksanaan tradisi Tegal Desa, Pemerintah Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, kembali menggelar kegiatan ziarah ke makam para leluhur dan tokoh yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah desa.


Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu pagi, 5 September 2026, tersebut menjadi salah satu rangkaian tradisi tahunan masyarakat Randupitu. Rombongan berangkat sekitar pukul 07.00 WIB dengan menyambangi sejumlah makam sesepuh, pepunden desa, serta mantan kepala desa.


Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, turut memimpin langsung kegiatan tersebut. Bersama perangkat desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat, rombongan menyusuri sejumlah lokasi makam yang berada di wilayah Dusun Randupitu, Gesing hingga kawasan Babat.


Ziarah diawali dari Makam Buyut Biru, salah satu pepunden yang dikenal masyarakat Dusun Randupitu. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke makam sejumlah tokoh desa, di antaranya Lurah Singowongso, Lurah Abdul Rasad dan Lurah Jamak.


Lurah Singowongso menjadi salah satu tokoh yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah masyarakat Randupitu. Ia dikenal sebagai kepala desa pada masa Hindia Belanda. Sementara Lurah Abdul Rasad tercatat memimpin desa pada masa awal kemerdekaan Indonesia.


Perjalanan ziarah kemudian berlanjut menuju Dusun Gesing. Di kawasan tersebut, rombongan mendatangi makam Lurah Mustakim dan Mbah Suranten, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai salah satu pepunden Dusun Gesing.


Rombongan juga mengunjungi makam Mbah Lamdaur. Di lokasi tersebut, masyarakat mendapatkan cerita mengenai sejarah awal terbentuknya kawasan lembah Gesing.


Supaat, yang merupakan keturunan ketujuh Mbah Muallim, turut menjelaskan kisah leluhurnya kepada rombongan. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Mbah Muallim bersama istrinya, Nyai Ru, membuka kawasan yang sebelumnya masih berupa alas.


Dengan dibantu empat putranya, kawasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi lahan pertanian sekaligus tempat bermukim bagi keluarga dan keturunannya. Jejak sejarah tersebut hingga kini masih melekat dalam ingatan masyarakat dan menjadi bagian dari cerita asal-usul kawasan Gesing.


Bagi Pemerintah Desa Randupitu, kegiatan ziarah tidak hanya memiliki makna keagamaan, tetapi juga menjadi upaya untuk menjaga hubungan generasi sekarang dengan sejarah desa.


“Tradisi ziarah ke makam para leluhur dan almarhum perangkat desa sudah menjadi tradisi setiap tahun. Tujuannya untuk mengirimkan doa kepada para pendahulu yang telah berpulang,” ujar Kepala Desa Randupitu Mochammad Fuad.


Kegiatan ziarah tersebut menjadi pembuka rangkaian Tegal Desa Randupitu. Setelah ziarah pada pagi hari, masyarakat juga dijadwalkan mengikuti Kirab Ancak Babat Alas Randupitu Raden Singowongso Mindha Pendopo pada Sabtu malam.

Kirab dimulai dari Balai Desa Randupitu dan berakhir di Lapangan Desa Randupitu. Rangkaian kegiatan turut diisi dengan jalan santai malam, pembacaan Burdah bersama Hadrah Ishari, pentas seni dari TK se-Desa Randupitu, gebyar budaya, hiburan, serta pembagian hadiah dan doorprize.


Melalui rangkaian Tegal Desa tersebut, Pemerintah Desa Randupitu berupaya menjadikan tradisi bukan hanya sebagai kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali akar sejarah, menghormati para pendahulu, sekaligus memperkuat kebersamaan antarwarga.


Ziarah leluhur dan kirab budaya akhirnya menjadi dua bagian yang saling melengkapi: mengenang masa lalu sekaligus merawat kebersamaan untuk masa depan Desa Randupitu.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama